Ekonomi

Imbas Gangguan Pasokan dan Teror Jalur Pipa Arab Saudi, Harga Minyak Mentah Melonjak Pertama Kali ke 108 Dolar AS

Editor: Farhan Mahardika⏱️ 3 menit baca18 views
Ilustrasi kilang minyak Ras Tanura di Arab Saudi, yang dioperasikan oleh Saudi Aramco.  Kutipan artikel ini tayang di Investor.id dengan judul "Harga Minyak Makin Panas, Gangguan
Ilustrasi kilang minyak Ras Tanura di Arab Saudi, yang dioperasikan oleh Saudi Aramco. Kutipan artikel ini tayang di Investor.id dengan judul "Harga Minyak Makin Panas, Gangguan

NEW YORK — Pasar energi global kembali bergejolak setelah harga minyak mentah melambung hingga menyentuh 108 dolar AS per barel pada transaksi Selasa (15/9/2026). Eskalasi harga ini dipicu oleh terhentinya pengiriman di fasilitas ekspor Yanbu serta gempuran armada militer ke jaringan pipa utama Arab Saudi, yang memperparah ancaman kelangkaan pasokan minyak dunia.

Berdasarkan data perdagangan Reuters, minyak mentah jenis Brent menguat US$ 3,07 (2,9%) menjadi US$ 108,75 per barel. Pada saat yang sama, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) asal Amerika Serikat melesat US$ 4,44 (4,38%) ke posisi US$ 105,83 per barel, mencatatkan rekor penutupan harga tertinggi sejak Mei lalu.

Kepanikan pelaku pasar dipicu oleh mandeknya aktivitas pemuatan minyak di Pelabuhan Yanbu yang terletak di pesisir Laut Merah. Hal ini menyusul langkah tegas pemerintah Arab Saudi yang membatalkan pengiriman pasokan ke beberapa pembeli di kawasan Eropa. Peran Yanbu menjadi sangat krusial bagi lalu lintas minyak internasional mengingat tingginya risiko pelayaran di Selat Hormuz akibat friksi militer AS dan Israel dengan Iran.

Sebagai opsi darurat menghindari Selat Hormuz—jalur kilas yang memproses 20 persen distribusi minyak bumi global—Riyadh mengalihkan alur distribusi menggunakan pipa East-West sepanjang 1.200 kilometer menuju pesisir barat. Kendati demikian, pasokan tetap terancam usai milisi Houthi dilaporkan meluncurkan serangan balasan yang membidik fasilitas vital tersebut pada Senin (14/9/2026).

Pakar Industri dari Lipow Oil Associates, Andy Lipow, mengungkapkan bahwa pembatalan pasokan oleh Arab Saudi memaksa fasilitas pemrosesan minyak di Eropa mencari alternatif suplai dari AS. Fenomena ini memicu lonjakan harga WTI lebih tinggi dari Brent karena kekhawatiran pedagang bahwa krisis ekspor Timur Tengah akan berlangsung lama.

Situasi kian pelik setelah serangkaian dialog keamanan antara negara-negara Teluk dan Iran resmi ditunda. Tingginya risiko gangguan logistik energi ini diperkirakan bakal membayangi kestabilan ekonomi global serta memicu lonjakan angka inflasi dunia.

F
Farhan Mahardika

Editor • Sekilat Info

Penulis terverifikasi Sekilat Info.

100%