Asap Karhutla Belum Mereda, Penderita ISPA Bertambah di Pekanbaru dan Palembang

PEKANBARU— Kabut asap yang ditimbulkan oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai memberikan dampak terhadap kesehatan masyarakat di wilayah Sumatra. Dalam dua pekan terakhir, sebanyak 3.028 warga Pekanbaru mengalami ISPA. Sementara itu, di Palembang jumlah kasus meningkat dari 3.807 kasus pada akhir Agustus menjadi 4.326 kasus pada pekan kedua September.
Di Pekanbaru, data tersebut diperoleh dari Dinas Kesehatan (Diskes) Kota Pekanbaru berdasarkan laporan dari 21 puskesmas yang tersebar di berbagai wilayah kota.
Peningkatan kasus terjadi bersamaan dengan semakin tebalnya kabut asap di sejumlah daerah Riau, seperti Pekanbaru, Dumai, Kampar, Siak, Pelalawan, Indragiri Hulu, dan Rokan Hilir.
Kabut asap juga mulai mengganggu masyarakat yang melakukan aktivitas di luar ruangan. Beberapa keluhan yang dirasakan antara lain mata terasa perih dan berair serta mengalami sesak napas saat berkendara.
Sekretaris Diskes Kota Pekanbaru, Dedy Sambudi, mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati, khususnya ketika melakukan kegiatan di luar rumah.
Dedy menyampaikan bahwa masyarakat sebaiknya tetap menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan. Pernyataan tersebut disampaikan pada Selasa (15/9) dan dikutip dari Riau Online.
Salah seorang warga, Awan, yang setiap hari bepergian ke Pekanbaru untuk bekerja, mengaku masih merasakan dampak kabut asap meskipun telah memakai masker.
Awan mengatakan bahwa perjalanan menuju tempat kerja membuat matanya terasa perih dan napas menjadi sesak akibat paparan asap.
Ia juga menyebutkan bahwa kondisi tersebut semakin terasa ketika melewati wilayah yang memiliki kabut asap lebih tebal, sehingga matanya menjadi perih dan terus berair.
Dampak kabut asap terhadap kesehatan juga terjadi di Palembang, Sumatra Selatan.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Palembang, jumlah kasus ISPA pada minggu keempat Agustus mencapai 3.807 kasus. Angka tersebut kemudian naik menjadi 4.104 kasus pada minggu pertama September dan kembali meningkat menjadi 4.326 kasus pada minggu kedua September.
Kelompok yang dinilai cukup rentan terhadap dampak kabut asap antara lain balita, anak-anak, serta masyarakat usia produktif.
Puskesmas Sukarami juga mencatat adanya peningkatan jumlah pasien dengan gejala ISPA selama dua pekan terakhir jika dibandingkan dengan jumlah pasien sepanjang Agustus.
Dokter fungsional Poliklinik ISPA Puskesmas Sukarami, Citra Suwarnaputri, menyampaikan bahwa rata-rata terdapat sekitar 20 pasien per hari. Jumlah pasien tertinggi tercatat pada Senin (14/9), yakni sebanyak 32 orang.
Menurut Citra, sebagian besar pasien mengalami keluhan berupa sakit tenggorokan, batuk kering maupun berdahak, serta flu dan hidung tersumbat yang biasanya disertai demam selama sekitar tiga hari. Pernyataan tersebut dikutip dari Kompas.
Salah satu pasien yang mendapatkan penanganan adalah Aurelia, 5 tahun, yang diketahui memiliki riwayat asma sejak lahir.
Ibunya, Mita, 35 tahun, menjelaskan bahwa dalam kondisi normal Aurelia biasanya menjalani terapi nebulizer sekitar satu kali dalam sebulan ketika asmanya kambuh akibat batuk atau pilek.
Namun, sejak kondisi udara terdampak kabut asap karhutla, kebutuhan terapi nebulizer meningkat menjadi setidaknya satu kali dalam seminggu.
Menurut Mita, terapi nebulizer menjadi penanganan utama bagi Aurelia yang memiliki riwayat asma sejak lahir.
Pada Selasa (15/9), Aurelia mendapatkan terapi nebulizer selama kurang lebih 15 menit di Posko Penanganan Dampak Asap Karhutla Puskesmas Sukarami dengan menggunakan obat Ventolin dan Pulmicort.
Kondisi tersebut berlangsung ketika kualitas udara di Palembang mengalami penurunan. Berdasarkan pemantauan konsentrasi partikulat PM2.5 oleh BMKG, kualitas udara harian di Palembang selama satu bulan terakhir rata-rata berada pada kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat.
Sebagai upaya menangani dampak kesehatan akibat kabut asap, Dinas Kesehatan Palembang telah menyiapkan 61 posko yang tersebar di wilayah kerja 42 puskesmas dan beberapa fasilitas umum.
Posko tersebut juga menerapkan sistem jemput bola ke lingkungan permukiman untuk memberikan edukasi kesehatan, membagikan masker, serta memberikan pelayanan pengobatan kepada masyarakat.
Berita Terkait
Bagikan berita:


